
|
Bonjour! ![]() Hi, my name's Flora Nerissa Arviana. Nessa. Gonna be 15th. 100% Catholic and 100% Indonesian. Spammers? Anons? Bashers? Copycaters? JUST GO TO HELL! Tagboard! Back to past Credits!
| 2013, I'm Ready To Beat. Hi, Guys! Sebelumnya gue ucapin, "HAPPY NEW YEAR 2013 ☺" Happy new year! Selamat tahun baru! Sugeng warsa enggal! 새해 복 많이 받으세요! 明けましておめでとう! Yeah, today is Page 1 of 365, rite? Nggak kerasa udah 2013 aja. Udah mau UN aja. *nahloh* Bicara soal 2012, jujur gue punya banyak kenangan. There're a lotta memories in last year that I can't forget. Yak, mari kita berkaleidoskop ria~ Kalo ditanya bulan2 yang paling berkesan dalam hidup gue selama 2012 adalah Bulan Juli. Karena di bulan itu (gue masih inget juga tanggalnya, tgl 17-22 Juli 2012), gue sama temen2 seangkatan gue & my classmates, Dan gue juga nggak akan melupakan bulan September & Desember. Kenapa? Karena di September gue mulai disibukkan dengan banyak tugas. And honestly, di bulan itu gue banyak nangis. Ada beberapa hal yang bikin gue nangis sih. Ya entah itu soal sekolah, cinta *cieh*, atau apalah. But, there're so many precious lessons that I've learnt from all my problems in 2012. Yak, karena bagi gue antara bulan September-Oktober inilah gue ada beberapa masalah. Problems. But, those make me stronger. Walaupun sempet bikin gue down juga sih. And I'm so thankful of God, cause I can pass them ;) Dan di Desember ini, entah kenapa bulan ini bisa dibilang bulan yang paling jauh dari kesedihan buat gue *halah*. Karena ya mungkin banyak hal2 yang menggembirakan selama bulan Desember. Walaupun ada masalah juga karena nilai gue yang jeblok u.u Tapi itu justru jadi pemacu buat gue untuk meningkatkannya jadi lebih baik lagi. Ah, totally I feel thankful of God that in 2012, we, all humans in the whole world, still alive!~ Yeah, doomsday that has predicted by Mayans = b****h**, rite? :p Yeah, the important is, in 2012, we're still alive. Thanks God! Thanks Jesus! ❤ Dan tadi malem, gue sempet bikin bucket lists alias wishes list in 2013. Ceritanya wishes nya itu gue masukin di toples ini :p Ini dia:
Ya, biasalah, kelas 9 :p Pengennya ya gitu. Dreams that I dream will be b***s*** if I don't try to chase them, rite? Gue harus terus berusaha mewujudkannya. Untuk UN, untuk SMA favorit, dan untuk ortu gue. And it means.............. gue harus melepaskan kesenangan gue sementara untuk meraih cita2 gue. Gue udah memutuskan untuk hiatus bener2 dari internet selama bulan Januari 2013 (pas udah mulai masuk sekolah) - Mei 2012 (pas UN). Yah, mau nggak mau. Kalo nggak, usaha belajar gue pun nggak akan maksimal kan? So, perhaps today is my last post here. Dan kalo ada waktu, gue bakal buka internet atau ngepos disini kok :) Yang pasti, gue minta doa & restu kalian buat UN tahun ini. Semoga soalnya jangan ngajak berantem *halah* & semoga usaha belajar gue & temen2 lain yang mau UN tahun ini berhasil ya :D Do the best, God do the rest! :) Hwaiting!!! ![]() Labels: article, cita cita, curcol, experience, galau, inspired, menurut pandanganku, my life and myself, not so important, pictures images or photos The 1st Short Story :D
(source: weheartit)
Hi Guys! It's nice to meet ya again! :D Okay, kayaknya ini adalah saat yang tepat untuk gue mempublikasikan cerpen yang udah gue buat. Sebelumnya, sori ya kalo ceritanya agak basi. Sebenernya ni cerpen pernah gue kumpulin untuk tugas Bahasa Indonesia, hope you'll like it ;)
Akankah?
Selalu sama, itulah yang aku alami setiap harinya. Setiap
pulang sekolah harus naik bus TJ (Trans Jogja) dan haltenya cukup jauh dari
sekolah, tepatnya di halte depan Stadion Mandala Krida atau bahasa kerennya
Shelter Mandala Krida. Ini aku lakukan karena saat aku pulang sekolah, kedua
orang tuaku sama-sama masih harus bekerja dan pulangnya sore. Kadang kalau aku
capek, capek banget, aku naik becak saja daripada berjalan kaki dari sekolah
menuju Shelter Mandala Krida. Tapi hal ini cuma terjadi sampai aku kelas 8 sih.
Kelas 9 ini aku tidak lagi sering naik TJ, karena aku lebih sering pulang sore,
dan tentunya lebih sering dijemput bapakku, jadi aku tidak perlu naik bus lagi.
Kau pasti penasaran kenapa aku menceritakan hal sebasi itu:
pulang sekolah naik bus. Kenapa? Karena dulu, kelas 8, waktu aku masih pulang
dengan naik bus setiap hari, ada cerita-cerita dibalik rutinitasku yang
pastinya basi juga.
Aku masih ingat betul, hari itu hari Kamis, hanya saja aku
lupa kejadian itu pada bulan apa, mungkin sekitar bulan Mei 2012. Aku pulang
sekolah dengan wajah kucel dan muka yang terlipat. Tahu kenapa? Aku juga masih
ingat, waktu itu aku mendapat ulangan IPA dengan nilai yang kurang memuaskan
dan harus remidi, dan saat itu juga harus remidi Biologi. What the hell! Tidak biasanya aku remidi pelajaran itu. Ya aku
akui, aku memang kurang maksimal belajarnya, sih. Soalnya ada tugas kelompok
Bahasa Inggris yang harus aku kerjakan bersama beberapa temanku. Ah ya
sudahlah. Nasi sudah menjadi bubur.
Waktu aku mau pulang dan sudah melangkah keluar pintu dekat
lobby sekolah, ada seseorang yang menepuk pundakku. Sudah kuduga ini pasti
ketua kelasku, kelas 8A, Tristan namanya. Dia memang sering memanggil orang
dengan menepuk pundak orang yang akan dia panggil. Apa banget.
“Eh Rat, kamu dipanggil tuh sama Pak Ramli, disuruh nemuin
beliau di ruang guru sekarang,” kata Tristan sambil menunjuk ruang guru yang berada
di dekat lobby sekolahku. Ya, disitulah ruang guru di sekolahku.
“Hah? Kenapa?”
“Nggak tau, pokoknya tadi Pak Ramli bilang kamu disuruh ke
ruang beliau sekarang…”
“Oh oke, Tan…”
Segera saja aku melangkah masuk ke ruang guru. Kenapa ya
aku dipanggil Pak Ramli? Apa gara-gara aku remidi Biologi tadi? Ya sudahlah,
aku segera menemui Pak Ramli yang sedang asyik dengan laptop Acer-nya.
“Maaf, Pak, Bapak manggil saya?” sapaku sopan.
“Ya, Ratri.”
“Ada apa ya, Pak?”
“Masih nanya ada apa? Kamu ini gimana sih? Jelas-jelas tadi
kamu remidi Biologi! Nggak biasanya kamu dapet nilai Biologi 73! Kamu tau
KKMnya? 75! Biasanya kamu dapet 80 lebih. Ada apa sebenarnya?” tanya Pak Ramli,
guru Biologi yang terkenal killer itu
menginterogasiku. Huh, kuakui aku sempat kaget karena nada bicaranya yang
tiba-tiba meninggi itu.
“Em… Maaf, Pak, saya memang kurang belajar, soalnya semalam
saya harus kerja kelompok untuk tugas Bahasa Inggris,” jawabku gugup.
“Halah, alibi kamu! Ya sudah, yang penting tadi kamu jujur.
Lain kali belajar lebih giat! Sekarang kamu boleh pulang!” tegas guru
berkacamata plus itu.
“Mm… Baik, Pak, saya akan belajar lebih giat lagi. Permisi,
Pak,” sahutku sembari undur diri.
Hah, hari ini sial bagiku. Payah banget deh. Tadi aku
memang tidak bisa mengerjakan ulangan Biologi karena aku memang kurang belajar.
Kena semprotan Pak Ramli pula. Hufft. Tapi tetap saja siang itu kuakhiri dengan
wajah kecut. Akhirnya kuputuskan untuk pulang dan melupakan semuanya.
Dari sekolah, aku naik
becak sampai Shelter Mandala Krida. Bukan malas sih sebenarnya, tapi karena aku
sedang tidak ada mood, maka
kuputuskan naik becak. Setelah beberapa menit, sampai juga aku disana. Dengan langkah gontai, aku berjalan
menuju pintu masuk Shelter Mandala Krida. Tiba-tiba, seorang petugas TJ
berjilbab–umurnya kira-kira 25-an–yang tentunya sudah hafal denganku–tersenyum
ramah kepadaku. Aku, dengan raut wajah yang masih sama (baca: kucel),
memaksakan senyum karena ingin membalas senyum si mbak tadi.
“Mbak, saya mau naik jalur 2A ya, Mbak. Turun di Terminal
Concat,” kataku sambil menyodorkan uang Rp 3.000,00 (karena ongkos naik TJ
untuk 1 orang Rp 3.000,00) kepada si mbak.
“Oke Dek, seperti biasa,” sahutnya tersenyum.
Setelah itu aku mulai duduk di kursi yang tersedia di halte
tersebut. Walaupun halte tersebut tidak seluas halte di RS Bethesda atau halte
di Terminal Concat, tapi halte itu nyaman, kok. Bahkan aku sudah hafal
wajah-wajah petugas halte, termasuk si mbak berjilbab tadi. Enak lho
tanya-tanya apapun ke petugas TJ. Hehe. Untuk mengusir kebosanan, aku biasanya
baca koran atau majalah yang ada di halte itu.
Kulirik arloji putih yang melingkar di pergelangan tangan
kiriku. Pukul 13.45, lama banget. Padahal
kayaknya tadi aku sampai sini 30 menit yang lalu. Perasaan lama deh, nggak
biasanya sampai 30 menit gini, dan biasanya 5 sampai 15 menit, batinku. Tampaknya
orang-orang disekitarku yang juga sedang menunggu bus juga merasakan hal yang
sama. Lalu aku memberanikan diri bertanya kepada si mbak.
“Mbak, kok tumben lama? Biasanya nggak selama ini kan?”
tanyaku.
“Iya Dek, soalnya ada pergantian driver di Shelter RS
Hidayatullah,” jelas si mbak.
“Oh… Kira-kira berapa menit lagi ya, Mbak?”
“Sekitar 10 menit lagi Dek, bisnya udah sampai Shelter
Kusumanegara kok, bentar lagi.”
Ya sudah, daripada garing menunggu, lebih baik aku
mendengarkan musik saja dengan earphone dan
iPod yang kubawa. Lalu, beberapa menit kemudian…
“Jalur 2A… Para penumpang yang ingin ke Kridosono, RS
Bethesda, RS Dr. Yap, RS Panti Rapih, UNY, Sanata Dharma, Gejayan, Terminal
Condong Catur, Monjali, maupun Terminal Jombor, harap mempersiapkan diri…” seru
si mbak, menandakan busnya sudah dekat. Aku pun segera mempersiapkan diri.
Setelah bus datang, kulihat suasana dalam bus dari luar, ternyata busnya tidak
terlalu ramai. Berarti aku bisa duduk dengan nyaman dan tidak perlu berdiri.
Segera setelah aku duduk di kursi bus paling belakang yang
menghadap ke depan, aku segera memasukkan earphone
dan iPod ke dalam tas. Tiba-tiba kulihat diluar turun hujan. Pertama
gerimis, lama kelamaan lumayan deras. Untung
aku udah masuk bus. Terima kasih Tuhan, batinku. Tapi, ada sesuatu di dalam
bus yang tak terduga. Aku melihat seorang laki-laki berkacamata, memakai
seragam SMP (putih biru), sepertinya seumuran denganku (sama-sama kelas 8
maksudnya), dan setelah kulihat wajahnya ternyata……..
Aku masih
mengerjap-ngerjapkan mata, tak percaya. Hah? Benarkah? Apa aku sedang bermimpi?
Beberapa hari yang lalu aku juga melihatnya waktu aku bersama sepupuku di
Gramedia Ambarukmo Plaza, dan dia sedang membaca sebuah buku–yang entah tentang
apa–bersama salah satu temannya. Aku bahkan sampai tidak memikirkan bagaimana
reaksi orang-orang yang duduk dalam bus melihat ekspresiku yang terlalu
berlebihan itu. Orang yang duduk disebelahku pun menatapku aneh. Sudah kuduga
pasti dia berpikir, ni orang ngapain sih,
ngeliatin orang gitu banget. Tapi masa cowok berkacamata itu… DIA, dan
sekarang aku melihatnya lagi, di bus?
DIA? Dia siapa? Mungkin
kau penasaran siapa yang aku maksud DIA. DIA itu… adalah… orang yang kusukai
waktu aku SD. Jadi begini ceritanya. Dulu, waktu aku duduk di bangku kelas 5
SD, sekolahku kedatangan murid baru. Namanya (duh jadi malu nih, haha), Nicholas Pandu Dewangkara (aku masih
ingat nama lengkapnya, hehe…), panggilannya Pandu. Dia itu pindahan dari manca
lho. Dia itu pindahan dari sebuah SD di Seoul, Korea. Aslinya dia orang Jogja,
tapi dia pindah ke Negeri Ginseng itu sejak umur 6 tahun dan menetap disana
karena pekerjaan ayahnya yang mengharuskannya tinggal di Korea. Aku tahu itu
dari seorang temanku yang kebetulan sekelas dengan dia. Sebenarnya ketika
awal-awal dia masuk sekolah itu aku tidak terlalu mengacuhkan dia. Saat itu aku
hanya berpikir, oh ada anak baru dari
manca, tapi orang Indonesia.
Tapi, aku mulai cari
tahu tentang dia sejak kelas 6, tepatnya sejak teman-temanku yang sekelas
dengan dia maupun teman-teman sekelasku tiba-tiba saja menjodohkanku atau
bahasa gaulnya aku dipacok-pacokin dengan
dia, gara-gara nilai ulangan IPS, Bahasa Inggris dan PKn kita sama. Lalu karena
namaku dan namanya selalu ada di daftar nama kelompok les yang sama, yaitu
kelompok 1 (les tambahan kelas 6 SD). Bahkan, guru-guru kelas 6 pun ikut-ikut macok-macokin. Halah. Njuk ngopo? Awalnya aku tidak peduli terhadap itu semua. Tapi lama kelamaan,
aku… ehm… mulai…. yap, menyukainya. Entah kenapa. Kata sahabatku, Hani, kalau dipacok-pacokin seperti itu nantinya
bisa benar-benar jadi suka. Yah, kurasa Hani benar. Jleb rasanya. Aku mulai
cari tahu tentang dia. Kata temanku yang sekelas dengannya, dia itu tipikal
cowok pintar yang, yah, tau sendiri lah, cuek sama cewek. Dia itu jago banget
yang namanya pelajaran eksak, ya macam Matematika atau Fisika gitu. Dia juga
pintar menggambar. Temanku itu bilang lagi, kalau bapaknya itu orang teknik dan
ibunya dokter. Ya sudah, menurun ke anaknya. Ya walaupun sebenarnya dia tidak
seganteng aktor-aktor Korea seperti Kim Soo Hyun, Kim Hyun Joong, Song Joong Ki
atau Lee Min Ho. Tapi kuakui, dia manis, sih. Haha. Tapi entah kenapa, aku jadi
tertarik dengan cowok pintar. Bahkan dulu waktu pengumuman kelulusan di SD, dia
mendapat NEM tertinggi di SD-ku, lho. Aku bahkan masih ingat berapa NEM-nya,
yaitu 27,60, dan kau tahu, nilai Matematika-nya 10! Keren. Andai saja aku
mendapatkan nilai sebagus itu. Tapi dulu kami tidak sering mengobrol. Hanya pada
waktu tertentu saja, seperti saat kami sama-sama menunggu jemputan, karena
kebetulan saat itu teman-teman kami yang lain tidak ada (yang ada hanya adik
kelas), sehingga kami tidak perlu malu… Kau tahu, dari salah satu temanku, aku
tahu bahwa sekarang ini dia sudah menjadi siswa SMP N 5 Yogyakarta alias
Pawitikra, SMP terfavorit di Jogja, yang pastinya berisi orang-orang berotak
encer.
Oke, kembali ke
kejadian di bus itu. Oh, ternyata dia tidak sendirian. Dia bersama sekitar 4
orang temannya. Sampai beberapa saat kemudian kenek bus (yang ternyata
mbak-mbak juga), ngobrol bareng 5 orang itu. Aku bisa mendengar pembicaraan
mereka karena aku duduk tidak begitu jauh dari mereka.
“Wah, mas-masnya dari
mana nih? Kok pada bawa soal-soal gitu? Hayo, habis tes ya?” tanya kenek bus
itu. Sok akrab banget nih mbak-mbak sama
berondong, pikirku sambil tertawa kecil.
"Tes apa, Mbak?
Mbak-nya sok tau, deh. Haha,” sahut salah satu teman Pandu yang berkulit putih,
sepertinya dia Chinese.
“Bukan tes, Mbak, tapi
simulasi olimpiade, hehe,” timpal cowok yang berkulit hitam dan berkacamata.
“Wah wah, ni mas-masnya
pinter-pinter ya. Mau pada olimpiade, hehe. Emangnya olimpiade apa nih?” sahut
si mbak kenek. Mbaknya kepo deh,
batinku.
“Ah
nggak juga, kok, Mbak. Baru simulasi kok, hehe. Olimpiadenya aja masih sebulan
lagi, kok. Olimpiade Fisika, Mbak,” kata cowok Chinese itu. Pandu kok nggak ngomong, sih? Mana cuma
senyum-senyum nggak jelas sama salah satu temennya, lagi, batinku gregetan sendiri.
“Wah,
Fisika? Keren tuh! Tingkat apa?”
“Tingkat
Provinsi DIY, Mbak. Kalo kita menang, kita bakal ngewakilin Jogja ke tingkat
nasional. Doain, ya, Mbak, hehe…”
“Wah,
pinter-pinter semua nih mas-masnya. Iya deh, saya doain, semoga mas-masnya bisa
menang dan mewakili Jogja, hehe. Ngomong-ngomong mas-masnya dari SMP mana nih?”
“Amin,
Mbak, hehe. SMP 5, Mbak.”
“Wah,
pantes aja, nggak heran saya. Sukses ya buat mas-masnya! Pada mau turun mana,
nih?”
“Hehe,
makasih, Mbak. Mau turun shelter depan sekolah, dong, Mbak, haha…” Shelter depan sekolah? Berarti Shelter Kridosono, batinku.
“Okedeh…”
Akhirnya
obrolan itu pun berhenti. Tidak terasa bus kami sudah mau sampai di Shelter
Kridosono, karena sekarang kami berada di Jalan Jembatan Layang Lempuyangan.
Itu artinya sebentar lagi mereka turun. Setelah mendengar obrolan itu, aku
berpikir, ya biasalah anak SMP 5, pintar semua. Pandu pastinya termasuk
golongan anak-anak SMP 5 yang sering ikut olimpiade. Tambah kece aja dia, batinku.
“Yak,
sebentar lagi kita akan sampai di Shelter Kridosono, SMP 5… Para penumpang yang
akan turun, dimohon mempersiapkan diri, jangan sampai ada barang yang
tertinggal…” suara si mbak kenek itu mengagetkanku saat aku sedang melamunkan
Pandu bersama teman-temannya. Beberapa detik kemudian, busnya sudah sampai di
Shelter Kridosono, dan… Pandu turun bersama teman-temannya disana. Tapi sebelum
turun, Pandu sempat tersenyum singkat padaku. Itu bukan GR belaka. Bahkan anak
SD–cewek–sepertinya kelas 6 SD–yang duduk disebelahku pun juga merasakan kalau
dia tersenyum padaku tadi.
“Wah mbaknya kenal sama mas-mas kece dari SMP
5 tadi, ya? Pantesan salah satu dari mereka ngajak senyum. Ciyee…” kata anak
itu pelan. Ini anak sok akrab juga ya.
Kenal aja nggak, batinku sambil tertawa.
“Ih
sok tau deh, nggak kok, hehe,” sahutku, jaim.
Yah,
itulah pengalamanku dari rutinitasku yang serba biasa itu. Tuh, kan, jadi KSBB.
KSBB itu singkatan anak-anak sekarang, kepanjangannya Kelingan Sing Biyen-Biyen. Biasalah, anak zaman sekarang, sukanya
buat singkatan, hehe. Nah, bagaimana rasanya jika kau bertemu cinta pertamamu?
Setelah sekian lama tidak bertemu? Beberapa waktu yang lalu memang aku sempat
bertemu dengannya, sih. Padahal dulu sejak masuk SMP aku sudah bisa
melupakannya dan tidak lagi memikirkannya. Ketika bertemu dia di Gramedia
Amplaz beberapa waktu lalu pun perasaanku biasa saja. Tapi sekarang, setelah
bertemu lagi, di TJ, di satu bus yang sama, kenapa rasanya rasa itu terulang
lagi? Apalagi setelah dia tersenyum padaku. Ya kuakui, jantungku sempat memacu
lebih kencang. Tapi sekarang sudah normal, kok, hehe...
Tidak
terasa waktu berjalan, sampailah busnya di Terminal Concat. Aku melangkah turun
dari bus. Aku merasa saat ini wajahku lebih gembira. Padahal kau tahu, kan,
tadinya wajahku kecut? Ya, mungkin karena aku bertemu DIA, cinta pertamaku.
Sesampainya
di rumah, aku bertanya-tanya. Berbagai pertanyaan muncul dalam otak dan hatiku.
Kenapa jantungku masih dag-dig-dug saat melihatnya, padahal di waktu yang
sudah-sudah, aku bisa melupakannya? Kenapa aku masih memikirkannya? Kenapa dia tersenyum
padaku, padahal aku tahu dia jarang tersenyum, apalagi dengan cewek? Apa dia
mempunyai perasaan yang sama denganku? Atau aku yang GR?
Daripada
galau, aku curhat ke salah satu teman Gerejaku, yah, dia juga sahabatku, sih.
Namanya Ratih (memang, namanya hampir sama denganku). Dia memang enak diajak
curhat. Aku menelponnya dan curhat semua kejadian hari ini. Dia bilang–dengan
logat Jawa yang medhok–yang jadi
ciri khasnya, “Kalau Tuhan mengizinkan 2
orang, cowok dan cewek berjodoh ya, Rat, setahuku, pasti bakal ketemu lagi.
Dipertemukan lagi sama Tuhan, apapun caranya. Kayak pengalamannya Mbak-ku yang
sulung itu. Mbak Rika kan sekarang udah married
sama Mas Radit itu lho, tau kan? Dia bilang dulu dia sama suaminya itu
pernah pacaran selama 5 tahun sejak SMA sampai kuliah, terus putus. 2 tahun
kemudian, mereka ketemu di Kona Coffee Shop. Mereka hanya saling melempar
senyum, ndak nyapa ataupun ngomong.
Terus, 5 tahun kemudian, mereka ketemu lagi di acara nikahan temannya Mbak Rika,
dan kebetulan Mas Radit diundang. Ternyata, diam-diam, mereka itu masih
menyimpan rasa sayang satu sama lain. Ya, itu, sih pengalamannya Mbak-ku.
Pengalamanmu tadi itu belum jadi jaminan, Rat, kalau dia benar-benar jodohmu.
Tapi, kita kan ndak tau apa yang
terjadi suatu hari nanti. Yowis, rasah
mikir kuwi, sing penting kan saiki sekolah wae sing bener, jarene mbokku sih, hehe. Cowok kan masih
banyak to Rat? Move on lah… Daripada
mikir orang yang belum tentu mikirin kamu?”
JEDER!
Jleb. Aku tersadar omongan Ratih tadi. Benar. Belum tentu juga kan dia
memikirkanku. Mungkin aku yang terlalu naif. Mungkin aku memang terlalu
berlebihan. Ah. Mungkin Pandu sempat tersenyum padaku di bus tadi itu hanya
sekadar formalitas; yakni bertemu dengan teman lama. Mungkin saja. Maybe. Perhaps. Percuma dong aku galau karena memikirkan orang yang belum
tentu memikirkanku juga, ya, kan? Tapi tetap saja, aku bingung. Akankah kami
bertemu lagi suatu hari nanti? Hanya waktu yang bisa menjawabnya.
**********
Well, itu tadi cerpen gue. Sori kalo antiklimaks :p Kalo pada suka ntar gue lanjutin deh :) Thanks for read :D ![]() Labels: curcol, galau, inspired, love life, my life and myself, not so important, short story Back!
(all images taken from weheartit)
Hi, Guys! Ah, akhirnya gue punya waktu buat nulis lagi disini. Yeah, it's time to back from my hiatus! Ya, beberapa bulan belakangan ini gue emang jarang ngeblog. Alasannya ya macem2. Dan ini nggak alibi lho, this is the truth.
Biasalah, kelas 9, ya banyak les, latian soal, TPM, dan belum lagi persiapan buat UTS dan UAS, and don't forget for national exam's preparation.
Kemaren gue dapet nilai UAS gue. Dan hasilnya......... *jeng jeng jeng*
I FEEL DISAPPOINTED.
Kecewa?
Banget.
Sebenernya kalau dibilang banget sih nggak. Dan itu bener2 bikin gue kapok.
Gue harus rela menerima kalo gue remidi 2. Penjas dan Math. Kalo Penjas sih gue udah langganan remidi, toh itu juga nggak masuk UN kan? Tapi Math? Ah, I'm so suck at it. Gue ngaku kalo gue emang bukan orang matematika. Gue, honestly, lebih tertarik sama pelajaran non eksak (ya bukan hapalan juga sih), kayak Bahasa Inggris, Musik (because I love singing! :D), & Biology. Gue suka 3 mapel itu dari dulu. Kecuali Biologi, ya, kalo Bio mah sukanya baru pas kelas 9 ini :p Dan lainnya? Biasa aja. Kalo benci sih nggak. Nggak sampe benci. Cuma males ngerjain soal :p
Dan karena kemalasan gue itulah, akhirnya nilai math gue jeblok. Kecewa sih, tapi mau gimana lagi? Regret is meaningless, right? Math itu masuk 4 mapel yg diujikan di UN! Oke, mungkin sekarang gue harus nerima hasil ini dengan lapang dada, toh itu juga hasil kerja keras gue sendiri. Ya mungkin karena gue belum ngerti bener materinya, mungkin karena gue kurang latihan. Itulah kesalahan terbesar gue-tapi nggak cuma gue, para siswa yg lain juga deh kayaknya-dalam matematika: kurang banyak latihan. Tapi, once again, gue mau bilang, selalu ada godaan (ya buat internetan lah, ngegame lah, nonton TV lah), &MALES. Itu penyebab utamanya.
Disini gue bukannya mau pamer kesedihan karena nilai gue jeblok *halah* tapi disini gue mau bilang kalo kalian bener2 males, itu akibatnya buruk banget, Guys. Nilai gue berasa nggak maksimal buat UAS ini, gue bener2 disappointed. Dan itu semua karena kemalasan gue. Karena gue males buat ngerjain banyak soal. Males latian.
Disini gue juga mau bilang kalo gue bakal jarang, dan kemungkinan jarang banget posting disini. Gue udah kelas 9, dan gue sadar kalo gue nggak boleh enak2 dan gue nggak boleh main internet terlalu sering. Udah saatnya gue tobat dan nilai gue yang (buat gue) mengecewakan ini, bener2 menyadarkan gue supaya gue belajar dan berusaha lebih keras dan lebih keras lagi. Cita2 gue adalah masuk SMA Negeri favorit, dan gue nggak akan pernah nyerah untuk itu. Walaupun belajar itu emang nggak enak, tapi inget Guys, untuk mencapai cita2 kita nggak boleh enak2. Harus bener2 kerja keras. Keras banget. Itu yang diwelingi bokap gue semalem setelah liat nilai gue. Kita harus korbanin kenikmatan kita untuk mencapai cita2. Kalo kita nggak bener2 berkorban, ya kita nggak bakal bisa maksimal buat mencapai apa yang kita pengen, ya nggak?
So, for my lovely readers *halah* yang kelas 9, kayaknya kita harus bener2 tobat deh. Tobat bener. Kalo nggak, only regrets that we can get. Ya nggak? Dan kalo itu terjadi, yang ada kita malah nangis2 bombay gara2 kesalahan kita sendiri.
Yuk, mulai sekarang kita harus pasang target buat diri kita sendiri.
Biar kita nggak kecewa dan nyesel! ;)
It's always seems impossible until it's done.
![]() Labels: curcol, experience, galau, menurut pandanganku, my life and myself, not so important, not so important #opotoh, peringatan, women's opinion H-2 Tour De Bali Hi Guys! Cuma mau post aja kalo besok Selasa sampe Sabtu, tanggal 17-21 Juli ini gue ma temen2 seangkatan gue (tentu aja ma temen2 sekelas gue Doain aja ya, semoga perjalanan kami lancar dan bisa kembali ke Jogja nantinya dengan selamat. GBU ;)
PS: Ada yang mau gue kasih oleh-oleh? :p
![]() Labels: curcol, my life and myself, not so important, not so important #opotoh, story of Espeelsa, story of my class :D MENDADAK GALAU Hi readers. Kali ini gue kayaknya mau bikin film. Kalo dulu ada film Mendadak Dangdut, maka gue akan bikin film dengan judul MENDADAK GALAU. Guess what? Dari tadi TL penuh dengan status kakak2 kelas gue yang PSB hari ini. Dan gue kaget banget setelah baca ini (gue pantengin TL Padmanaba terus, soalnya gue pengen masuk sana taun depan dan makanya itu gue mau liat perkembangannya):
what? ada yang nem 29? pasti KMS tuh
Weitssss,,,, tunggu dulu. Yang bikin gue nyesek bukan itu. Tapi yang ini (liat yang gue item2 in!):
See?
NEM 38.25 DIBILANG TERENDAH?!
What the hell.
It's not fair, obviously.
Dan sekarang?
Gue jadi galau karenanya.
Gue pastiin kalian tambah ngeri saat liat ini:
selamat deh ya buat mas yang berhasil duduk di peringkat 1 orang yang masuk sana.
nggak heran, nem nya aja 40.250. gue bingung apa ya isi otaknya -___-
Ah, kenapa gue jadi galau gini.
Kenapa perasaan gue bilang kalo gue nggak bisa masuk sana? Ah nggak. Gue harus tanamkan ke diri gue kalo GUE PASTI BISA MASUK PADMA.
Bokap gue selalu bilang, impossible is nothing. Nggak ada yang nggak mungkin selama kita mau bekerja keras. Dan untuk itu, gue harus kerja keras. Dan selama liburan ini gue menyempatkan diri untuk baca2 materi buat kelas 9 dan baca2 lagi materi kelas 7 & 8 (tapi nggak setiap hari lho ya, kalo ada waktu dankalo lagi mood, haha). Bukannya sok rajin. Tapi gue mau berusaha gimanapun caranya gue harus masuk sana.
Semoga readers yang mau masuk sana jangan galau lagi ya. Be optimist. Persaingan emang bener2 horror. Tapi, kata orang bijak, kalo kita mau berusaha maksimal, apa yang kita usahain pasti bakal terwujud kok. Jangan lupa berdoa :D ![]() Labels: curcol, galau, menurut pandanganku, my life and myself, not so important, not so important #opotoh, share UN oh UN
all photos taken from Google
Hello, Guys! Pasti pas lo mampir disini lo langsung mikir, judul postingannya kan Brilliant Legacy, lho kok gambarnya LJK? Emang sengaja. Haha *evillaugh* Soalnya disini gue mau bahas duaduanya. Haha :D Yang pertama, soal UN SMP yang bakal diadain besok. Ini jelas bikin gue flashback ke jaman SD dulu, waktu gue deg degan menjelang UN. Gue dulu nggak nyantai waktu ngadepin soal pas hari pertama UN. Nah, pas gue baca soal UN nya, eh beneran susahnya banget banget deh! Gue sampai mau nangis tau gak *believe or not, ini beneran. alhasil nilai b indo gue, yang merupakan mapel yang diujiin hari itu, jadi JELEK BANGET!* Elek pokoke, jangan ditanya deh. Padahal kalo menurut sodara gue, NEM gue lumayan kok (24.50 atau 24.40 gitu gue lupa), tapi buat gue itu SANGAT JELEK. Banget bangetan deh jeleknya. Ya bukannya gue sombong atau gimana, tapi gue NYESEKNYA PAS DI NILAI BAHASA INDONESIANYA! (OKE, maybe kalian tanya, berapa nilai bahasa Indonesia gue, tapi sayangnya nggak akan gue jawab!) Padahal, nilai IPA dan Matematika gue itu 8.75 semua! Dan nilai B Indo gue.... POOR. Sejak itu, gue mulai ubah mindset gue dalam ngadepin UN. Taun depan gue bakal ngadepin juga, jadi ya mulai sekarang gue harus mulai ngerangkum plus latian soal2. Biar nggak stress pas kelas 9 nanti. Masa nyiapin UNnya baru pas kelas 9? Alamak. Otak gue bisa mledug bnih kayak kompor *halah lebay* dan bikin frustasi pastinya. So, daripada otak gue mledug gara2 mikirin UN, mendingan gue siap2 dari dulu. Bukannya gue sok rajin atau apalah, tapi gue nggak mau kalo ntar gue jadi stress sendiri dan akhirnya nilai gue jeblok seperti pengalaman gue pas SD. And I don't want it happen to me again! Ya lebih baik gitu kan? Karena gue udah berkali kali ngerasain kalo nunda pekerjaan itu emang terbukti bikin gue stress dan parahnya itu bad habit gue sejak SD *
bagus banget makanya gue favorite
Finally gue cuma mau bilang "HWAITING!" buat kakak2 kelas gue yang besok UN.
Semoga bisa ngerjain dan hasilnya memuaskan :D
AJA AJA FIGHTING! ^_^
Labels: article, curcol, galau, menurut pandanganku, my life and myself, not so important, pictures images or photos, quotes, share Apaan Banget Kita harus menyadari, dia tuh udah nggak bisa diraih lagi sama kita..
Ibaratnya tuh kayak apartemen tanpa lift dan eskalator. Kamu di lantai basement dan dia ada di lantai 500
Itulah move on, kita move on itu karena ternyata orang yang kita sayang udah nutup pintu hatinya. Padahal kita udah berkorban banyak buat dia. Korbat duit, korban waktu, dan yang paling menyakitkan adalah :KORBAN PERASAAN.
Barusan tadi gue bw ke blog dia, dan gue nemu quotes ini. Karena itu menarik yaudah gue post di blog gue :D Gue pernah ngalamin SUSAH MOVE ON dari seseorang (kapan2 gue bakal share deh cerita tentang si ITU, haha). Tapi sekarang gue udah BISA MOVE ON! :) Berkat quotes diatas :D Oh ya, bestie gue, Ayu, juga udah post di blognya tentang PHP dan move on. Dan quote ini yang paling bikin gue jleb sekaligus sadar akan 1 hal. Buat apa lo buang tenaga dan air mata buat nangisin orang yang gak tau diri dan gak jelas statusnya sama lo. - Oke, itu aja. Kapan2 gue mau share ke lo lo pada tentang quotes MOVE ON! Tunggu tanggal mainnya Makasih udah baca ;) Labels: article, curcol, galau, inspired, love life, menurut pandanganku, my life and myself, quotes, share, women's opinion The A-Z of Friendship Hi, Guys, kali ini gue mau post tentang PERSAHABATAN. Talk about friendship, SAHABAT itu susah dicari. Susah banget nemu orang yang mau nerima apa adanya kita. Misalnya aja, ada temen saya yang bilang, "eh ness, temenmu banyak ya..." Emang banyak sih, tapi SAHABAT? Cuma beberapa. Hanya sedikit. Karena sahabat-yakni orang yang betul2 menerima kita apa adanya (termasuk kelebihan, kekurangan, keanehan, dan termasuk juga, masa lalu kita)-sangat susah dicari. Dan aku merasakan, sangat susah cari sahabat yang bener2 sahabat. Susah banget cari sahabat yang nggak ngomongin kita dibelakang (asli itu nyakitin banget). Susah banget cari sahabat yang tetep stay bersama kita dalam keadaan apapun. Jaman sekarang kita susah banget nyari sahabat. Karena nyatanya orang baik susah dicari :O Barusan saya menemukan notes yang sangat bagus (copas dari fb kakak kelas saya, Kak Wina). Yang membuat saya makin ngerti tentang persahabatan. Okay, cekidot!
The A-Z of Friendship
Accepts u as u are Belives in "u"
Calls u just to say "Hello"
Doesn't give up on u Envisions the whole of u Forgives your mistakes Gives unconditionally Helps u Invites u over Just be with u Keeps u close at heart Loves u who u are Makes a difference in your life Never judges Offers support Picks u up Quites your fears Raises your spirits Says nice things about u Tells u the truth when u need to hear it Understands u Values u Walks beside u X-plain things u don't understand Yells when u won't listen and... Zaps u back reality
"Flexible people don't get bent out of shape"
Lanjut,
sebenernya sih makna persahabatan itu mendalam sekali.
Hidup kita bakal sepi deh tanpa sahabat.
Seperti yang digambarkan dalam lagu dibawah ini (kalo mau download lari ke 4shared atau ke melon aja :)):
That's What Friends Are For
by: Dionne Warwick (taken from kapanlagi.com)
And as far as I'm concerned I'm glad I got the chance to say That I do believe I love you And if I should ever go away Well then close your eyes and try To feel the way we do today and then if you can remember Keep smilin' keep shinin' Knowing you can always count on me for sure That's what friends are for For good times and bad times I'll be on your side forever more That's what friends are for Well you came and opened me And now there's so much more I see And so by the way I thank you And then for the times when we're apart Well then close your eyes and know These words are coming from my heart And then if you can remember Keep smilin' keep shinin' Knowing you can always count on me for sure That's what friends are for For good times and bad times I'll be on your side forever more That's what friends are for
*nb: Lirik paling menyentuh buat saya, saya kasih Bold, Italic plus Underline :)
NOTES TO REMEMBER:
IT'S SO HARD TO FIND OUR TRUE BF NOWADAYS. :)
Image source: Google, WeHeartIt, Tumblr, Thinkstock Labels: article, curcol, love life, menurut pandanganku, my inspired songs :D, my life and myself, pictures images or photos, share, women's opinion Oke. Lemme Say The Truth. Hi, Dudes! Hari ini gue mau agak sedikit curcol. Tentang kesukaan gue sama Korea. Yeah, sebenernya gue udah suka sama Korea itu udah sejak lama. Sejak tahun 2009, pas gue kelas 5 SD, sejak kemunculan BBF. Jadi gue sukanya nggak tiru-tiru, nggak kayak Kpopers Alay (katanya sih sebutan buat Kpopers yang jadi Korean freak gara2 ngikutin jaman). Awalnya (jujur) gue nggak peduli sama sinetron Korea. Tapi setelah liat sepupu gue ada yang nonton BBF dirumahnya pas gue kerumah dia, dan waktu itu gue juga liat pemainnya unyu2 ganteng gitu, yaudah gue langsung nyoba nonton di Indosiar. Awalnya gue pikir serial ini bakal boring. Tapi nyatanya enggak tuh. Malah gue jadi suka banget sama BBF. Gue udah nonton berkali-kali (soalnya serial ini sering diulang). Sampai sekarang aja gue masih inget alurnya. Bahkan setelah tahun ini diputar di ANTV. Jadi pas hari2 libur, gue sempet2 in deh liat ANTV tiap jam 10 pagi buat nonton tuh drama.
gara2 nih drama, gue jadi suka sama Kdrama.
OSTnya juga bagus2 :)
Sejak nonton BBF, gue pun jadi suka sama Korea. Especially the Kdramas. Tapi kalo lagu en musik2, gue nggak begitu suka. Dan sampai sekarang, penyanyi solo Kpop aja yang gue tau cuma IU en Kim Soo Hyun (ndeso tenan). Tapi semenjak tahun 2010-2011, gue jadi tambah tau soal KPop gara2 ada majalah kaWanku (gue mulai baca sejak tahun 2010-seinget gue) soalnya tuh majalah sering banget bahas soal KPop. Tapi sayangnya, part dari Korea yang gue suka, yaitu dramanya, malah jarang dibahas :o Yaudah, pas baca majalah itu gue dikit2 tau Korea. Apalagi ada salah satu edisi kaWanku yang nulis tentang belajar nulis Hangeul. Nah, tapi, satu hal yang mau gue tekanin disini, jujur aja, gue itu suka Korea cuma sekedar suka aja. Nggak fanatik. Tapi adasih 1 penyanyi Korea yang gue suka banget, IU (profilnya udah gue tulis kemaren). Tapi kalo disuruh pilih antara IU atau Taylor Swift, gue sih mendingan milih Taylor. Soalnya gue suka Taylor itu udah mengakar banget. Jadi walaupun gue suka IU, tapi Taylor tetep number one buat gue. Secara kualitas suara, so far sih menurut gue penyanyi Barat bagus-bagus. Jauh lebih bagus daripada Korea. Emang sih, gue suka sama beberapa BB/GB Korea (such as Super Junior, SNSD, & 2NE1) tapi gue baru suka lagu2 mereka kalo lagu2 mereka itu enak & easy listening. Kalo lagunya biasa aja, ya, gue nggak suka. haha. Balik ke WC So, kalo ada yang bilang gue suka Korea itu baru2 ini, itu salah ya. Udah lama, sejak 2009. Dan satu lagi, buat gue, Taylor Swift is my inspiration. No one else. Dia yang paling bikin gue terinspirasi. Dan gue bukan Kpopers. Walaupun di hape gue ada beberapa Ksongs, tapi list paling banyak ya Taylor Swift's songs dong :D Jadi mendingan jangan ngurusin kesukaan orang lain ya. Hobi setiap orang kan beda. Dia mau suka Glee (ah gue suka banget sama Glee daripada Dream High) karena selain Swifties gue juga Gleek, suka Kpop, suka dangdut, suka Western, terserah.
Whatever you like, isn't a problem for me. Karena orang berhak memilih apa yang dia suka tanpa diprotes, yakan? ;)
Have a blast day, Guys! :D Labels: curcol, kdrama, menurut pandanganku, my life and myself, not so important, share, women's opinion |